Hatiku Surgaku Rumahku Surgaku

Rabu, 01 Januari 2020

Relasi Sriwijaya Dengan Daulah Umayyah

Relasi Sriwijaya Dengan Daulah Umayyah

Jumat 06 Dec 2019 04:27 WIB

Red: Muhammad Subarkah

klik republika

Beberapa hari ini viral postingan tentang Sultan Palembang, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin yang membantah pernyataan Menteri Agama dalam acara Ta’aruf Kongres Umat Islam Indonesia VI di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta.

Menurut Ketua Umum Yayasan Raja Sultan Nusantara (YARASUTRA) ini, dahulu sebelum ada Negara Kesatuan Republik Indonesia, para pimpinan-pimpinan kerajaannya adalah sultan yang beragama Islam.

Pernyataanya ini viral. Bahkan tulisan yang diposting di akun sosial media Kajian Ust Ad Hidayat Lc, dibagikan lebih dari 1,8 ribu kali.



Pernyataan Sultan Palembang ini mengingatkan saya pada leluhurnya Raja Sri Indrawarman yang telah menjalin relasi dengan Daulah Umayyah. Juga tentang sejarah masuknya Islam di nusantara yang ditulis Buya Hamka.

Fakta sejarah ini tak cukup “populer” karena tak sama dengan pelajaran di bangku sekolah. Yang menyebutkan Islam baru masuk nusantara pada abad ke 13 M. Sedang menurut Buya Hamka dengan sederet bukti yang dipaparkannya, cahaya hidayah telah sampai ke nusantara sejak abad ke 7 M.

Dalam bukunya “Dari Pembendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Indonesia”, Buya menuliskan, sejak tahun 625 M sekelompok bangsa Arab telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus), yang menjadi bagian dari wilayah kerajaan Sriwijaya pada waktu itu.

Bukti menarik lainnya adalah adanya surat yang dikirim oleh Raja Sri Indrawarman (702-728 M) yang merupakan raja Kerajaan Sriwijaya setelah Dapunta Hyang (671-702 M) kepada Khalifah Muawiyyah bin Abi Sufyan dan Khalifah Umar ibn Abd Azis (720-722 M).

Surat itu masih tersimpan rapi di Museum Madrid, Spanyol. Kapan-kapan kalau berkesempatan mengunjunginya, bolehlah dilihat untuk dibuktikan.

Surat untuk Khalifah Umar ibn Abd Azis masih bisa terbaca dengan jelas. Sedang surat untuk Khalifah Umayyah bin Abi Sofyan sudah rusak di sana-sini karena aus termakan usia.

Tak hanya surat itu yang menjadi bukti adalanya relasi antara kerajaan Sriwijaya dengan Daulah Umayyah.

Peristiwa ini juga terdokumentasikan dalam literasi catatan sejarah I Tsing dari Tiongkok yang berkunjung ke kerajaan Sriwijaya pada tahun 671 M. Dan ditemukannya prasasti kedukan bukit (682 M) oleh M. Batenbug (1920).

Surat ini juga tercatat dalam arsip Daulah Umayyah seperti yang tercantum dalam kitab "Al Hayawan" karya Abu Utsman ‘Amr Ibnu Bahr Al Qinanih Al Fuqaymih Al Basri atau yang lebih dikenal dengan nama Al Jahiz (776 M)

Isi surat Raja Sri Indrawarman yang ditulis untuk Khalifah Umar ibn Abd Azis, di antara isinya adalah:

“Dari Rajadiraja yang keturunan ribuan raja, yang di istalnya terdapat ribuan gajah, dan menguasai dua sungai yang mengairi gaharu, tanaman harum, pala dan barus, yang keharumannya menyebar sejauh dua belas mil…untuk Raja Arab, yang bertuhan Esa. Saya memberimu hadiah yang tidak seberapa sebagai tanda sapa dan saya harap Anda berkenan mengirim seseorang yang bisa mengajar tentang Islam dan menerangkannya kepada saya...”

Surat itu dibalas Khalifah dengan mengirimkan para ulama untuk mengajarkan agama dan beberapa sahaya dari berbagai bangsa. Yang kemudian di antaranya yang berasal dari Afrika dihadiahkan Raja Sri Indrawarman kepada Kaisar Tiongkok. Sehingga peristiwa tersebut tercatat dalam kronik Tiongkok.

Bukti lain adanya relasi antara kerajaan Sriwijaya dengan Daulah Umayyah seperti diungkap dalam penelitian H.A. Dt. Rajo Mangkuto yang menuliskan, pada 89 H atau 708 M Khalifah Walid bin Abdul bin Marwan (707-717 M) pernah mengirim armada ke pulau Sumatera.

Jadi, kalau sekarang Sultan Palembang berani bersuara lantang, kita tak perlu heran. Karena demikianlah yang diajarkan leluhurnya dalam mencari kebenaran. Mengirim surat hingga ke Damaskus yang nun jauh dari negerinya, untuk mendapatkan hangat cahaya Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar