klik sayangi bumi maka akan disayang langitan

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

(HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

*

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

surat (30) ar rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (٤١)

surat (5) al maa'idah ayat 32

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ (٣٢)

surat 4 An Nisa' ayat 114

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

surat 3 Āli 'Imrān ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*

klik nasehat

klik emak

*

Kamis, 30 November 2017

burung hantu sebagai musuh alami tikus sawah






Burung Hantu (Tyto alba) Pengendali Tikus yang Ramah Lingkungan


I.       PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang

     Siapa yang tidak kenal tikus? Hewan ini mudah ditemui disekitar kita. Tapi bila tikus muncul dan berkembang biak di area pertanian dan perkebunan, hewan ini bisa menjadi hama yang menakutkan bagi petani, Kehadirannya harus diberantas, baik dengan pengasapan, yang biasa dikombinasi dengan penggeropyokan atau dengan racun tikus.

     Lalu bagaimana dengan upaya pemberantasan hama tikus? Berbagai cara pendekatan telah banyak diupayakan dalam memberantas hama tikus ini. Mulai dari pengunaan racun tikus (rodentisida) hingga metode yang alami, yaitu dengan memanfaatkan kehadiran burung hantu (barn owl).

     Teknologi pengendalian tikus ada banyak ragamnya, seperti teknik jantan mandul, pengusiran dengan suara (biosonik), secara fisik mekanik (gropyokan, jebakan),kimiawi (peracunan dengan rodentisida) dan menggunakan musuh alami. Namun pada kenyataannya sampai saat ini tekanan pengendalian masih tertumpu kepada keampuhan penggunaan rodentisida kimia.

     Pengendalian hama menggunakan musuh alami dengan memanfaatkan burung hantu ini memiliki banyak keuntungan. Selain tidak mengotori lingkungan dengan racun ataupun zat polutan lainnya, kemudian asalkan dijaga dengan baik musuh alami juga tumbuh dan berkembang sehingga semakin hari bukan semakin habis seperti tumpukan persediaan pestisida. Dan satu lagi, musuh alami dengan senang hati bekerja sendiri sementara kita bisa tidur nyenyak menanti hasil kerjanya.

1.2.  Permasalahan

1. Bagaimana mengendalikan tikus yang ramah lingkungan?
2. Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan pengendalian tikus dengan burung hantu?

1.3. Tujuan

1. Mengendalikan tikus yang ramah lingkungan.
2. Mengatasi permasalahan-permasalahan pengendalian tikus dengan burung hantu.

II.      TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengendalian Hama Tikus Secara Terpadu.

TIKUS termasuk hama kedua terpenting pada tanaman padi di Indonesia.Ini perlu mendapat perhatian khusus di samping hama lainnya. Karena kehilangan hasil produksi akibat serangan hama tikus cukup tinggi.

Usaha untuk mengendalikan ‘si monyong’ tikus ini sudah banyak dilakukan oleh para petani, mulai dari sanitasi,kultur teknik, fisik, cara hayati, mekanik dan kimia. Namun diakui, bahwa cara-cara pengendalian tersebut belum dilakukan secara terpadu, sehingga harapan untuk menekan populasi tikus pada tingkat yang tidak merugikan ternyata sulit dicapai.

Pengendalian hama secara terpadu (PHT) ini akan terlaksana dengan baik bila petani menghayati konsep dasarnya dan menguasai berbagai cara pengendalian ke dalam suatu program yang sesuai dengan jenis organisme pengganggu dan ekosistem pertanian di tempat tersebut.

Konsep pengendalian hama terpadu sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1947-an, meskipun sebelumnya penanggulangan hama dengan jalan memadukan beberapa pengendalian sudah dilaksanakan.

LANGKAH AWAL

     PHT dapat didefinisikan sebagai cara pengendalian dengan memasukkan beberapa cara pengendalian yang terpilih dan serasi serta memperhatikan segi ekonomi, ekologi dan toksikologi sehingga popilasi hama berada pada tingkat yang secara ekonomi tidak merugikan. Artinya, bahwa PHT bertujuan untuk menekan populasi hama sampai pada tingkat yang tidak merugikan, pengelolaan kelestarian alam dan optimasi produksi pertanian.

Sebelum melangkah pada usaha pengendalian tikus sawah dengan menerapkan PHT, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu biologi dan ekologi tikus, sehingga petani akan lebih mudah meng identifikasi untuk selanjutnya dilakukan pengendalian.

Tikus termasuk ordo Rodentia, famili Muridae dan sub-famili Murinae. Dari sub-famili ini ada dua genus yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia yakni genus Mus dan Rattus.

     Pada umumnya, tikus sawah (Rattus orgentiventer) tinggal di pesawahan dan sekitarnya mempunyai kemampuan berkembang biak sangat pesat. Jika secara teoritis, tikus mampu berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun dari satu pasang ekor tikus saja. Walaupun keadaan ini jarang terjadi, tetapi hal ini menggambarkan, betapa pesatnya populasi tikus dalam setahun.

     Perkembangan tikus di alam banyak dipengaruhi faktor lingkungan, terutama ketersediaannya sumber makanan, dan populasi tikus akan meningkat berkaitan dengan puncak pada masa generatif.

     Kegiatan tikus lebih aktif pada malam hari, dan kegiatan hariannya sangat teratur mulai dari mencari makanan, minum, mencari pasangan sampai orientasi kawasan. Untuk menghindari dari lingkungan yang tudak menguntungkan, tikus biasanya membuat sarang pada daerah lembab, dekat dengan sumber air dan makanan seperti di batang pohon, sela-sela batu, gili-gili irigasi, tanggul, jalan kereta api dan bukit bukit kecil.

     Petani dapat membedakan mana yang disebut tikus sawah dan mana tikus rumah. Pada umumnya, tikus sawah selain melakukan aktivitasnya di sawah, juga dapat melakukan aktivitasnya di rumah. Sedangkan tikus rumah (Rattus ratusdiardii) hanya melakukan aktivitasnya hanya di rumah saja.

     Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tikus dapat dilihat pada batang padi yang terpotong dan membentuk 45­0 C serta masih mempunyai sisa bagian batang yang tak terpotong. Pada fase vegetatif tikus dapat merusak 11-176 batang per malam. Sedangkan pada saat bunting, kemampuan merusak meningkat menjadi 24-246 batang padi per malam.

Sebagai binatang pengerat, tikus dalam memenuhi kebutuhan hidupnya mengerat batang padi dengan perbandingan 5:1, yakni 5 batang padi dikerat hanya untuk mengasah giginya supaya tidak tambang panjang, dan 1 batang padi di makan untuk kebutuhan hidupnya.

2.2. Klasifikasi Burung Hantu Barn Owl (Tyto alba)

Phylum : Chordata
Sub-phylum : Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Strigiformes
Family : Strigidae
Genus : Tyto; terdiri dari 10 spesies

Tyto alba (Barn Owl) terdiri dari 35 sub spesies

Karakter morfologi Tyto alba

• Kepala besar, paruh seperti kait
• Mempunyai cakar kokoh
• Mata lebar dengan muka berbentuk cakram, membantu memfokuskan suara dating
• Sayap berbentuk bundar dan berekor pendek
• Bulu lembut, berwarna putih atau kekuningan pada bagian bawah
• Sisi atas ekor berwarna kekuningan dengan garis-garis hitam
• Pada mata bagian atas berwarna coklat

Distribusi

Genus Tyto terdiri dari 10 spesies, termasuk burung hantu dari Afrika (Grass Owl) dan Australia serta New Guinea (Masked Owl).

Distribusi burung hantu T. alba dapat dijumpai di eropa, banyak di Amerika Utara dan sebagian Amerika Selatan, menyebar mencakup sebagian Afrika, India, Asia Tenggara, Australia, dan Kepulauan Pasifik.

Penyebaran di Asia Tenggara dan Selatan meliputi India, Burma, Thailand, Kamboja, Laos,
Malaysia, Sumatera, dan Jawa.

Perilaku dan Habitat

• Aktif pada malam hari (nocturnal), bersembunyi pada siang hari
• Menghuni lubang pohon, atap gedung, jurang atau tebing karang
• Pohon atau areal pertanaman
• Tidak pernah dijumpai bersarang di atas tanah
• Dapat bersarang apa kandang buatan (gupon)
• Umumnya terbatas pada perkebunan kelapa sawit, karena kurangnya tempat cocok untuk  bersarang
• Selalu ditemukan di daerah-daerah pemukiman sekitar perkebunan kelapa sawit tradisional, jumlah rendah
• Dapat dikembangkan pada areal persawahan
• Lokasi pertanian padi, disekitarnya banyak perpohonan
• Tidak bersifat migratory
• Umumnya sebagai binatang penetap 1,6 – 5,6 km sekitar sarang

2.3.  Burung Hantu, Si Pengendali Hama Tikus

Burung Hantu dianggap menyeramkan bahkan sering dianggap membawa sial. Di beberapa tempat burung ini diburu habis karena masyarakat tidak ingin tertimpa kemalangan ataupun ingin mendapat keuntungan finansial dari burung eksotik ini.

Burung Hantu adalah burung predator yang ganas yang struktur tubuhnya membuatnya mampu selalu mengejut mangsanya.  Burung Hantu mampu mendeteksi mangsa dari jarak jauh. Burung ini pun mampu terbang cepat dengan sunyi sehingga mangsanya bisa saja tidak tahu apa yang menerkamnya.  Tetapi burung ini tidak berbahaya bagi manusia, justru sebenarnya membantu mengendalikan sejumlah hama, seperti tikus yang sangat merugikan manusia.

     Kemampuannya untuk mendeteksi mangsa dari jarak jauh dan kemampuannya menyergap dengan cepat tanpa suara serta sifatnya sebagai hewan nocturnal (mencari makan di malam hari) membuatnya menjadi predator ideal untuk tikus-tikus.

Beberapa tempat seperti di Kabupaten Agam di Sumatera Barat dan Kabupaten Jombang di Jawa Timur telah menunjukkan kesuksesan dalam mengendalikan hama tikus dengan cara membudidayakan Burung Hantu.

     Pembudidayaan yang dipantau oleh Dinas Pertanian dan Holtikultura setempat dan diikuti oleh pembangunan sarang-sarang buatan dan penangkaran ini terbukti mampu mengendalikan hama tikus dalam area persawahan yang sangat luas secara efektif dan efisien.

Sarang-sarang buatan dibutuhkan karena Burung Hantu tidak membuat sarangnya sendiri, Burung Hantu selalu merebut ataupun menempati sarang kosong milik burung jenis lain.

     Pengendalian hama menggunakan musuh alami ini memiliki banyak keuntungan. Selain tidak mengotori lingkungan dengan racun ataupun zat polutan lainnya, kemudian asalkan dijaga dengan baik musuh alami juga tumbuh dan berkembang sehingga semakin hari bukan semakin habis seperti tumpukan persediaan pestisida. Dan satu lagi, musuh alami dengan senang hati bekerja sendiri sementara kita bisa tidur nyenyak menanti hasil kerjanya.

Disebuah perkebunan di Riau, pemberantasan hama tikus dilakukan dengan cara alami. Tak ada lagi pemberantasan dengan menggunakan racun tikus. Sebagai alternatifnya digunakan burung hantu mengingat inilah hewan predator yang rajin memangsa tikus.

     Burung hantu termasuk spesies burung noctural atau beraktivitas di malam hari. Penglihatannya sangat tajam di mana dia dapat melihat mangsanya dari jarak jauh. Hidupnya berkelompok dan cepat berkembang biak. Induk burung hantu mampu bertelur 2 -3 kali dalam setahun. Sekali bertelur bisa mencapai 6 – 12 butir dengan masa mengerami selama 27 – 30 hari.

Tikus menjadi salah satu makanan spesifik burung hantu. Burung hantu dewasa bisa memangsa tikus 2 – 5 ekor tikus setiap harinya, jika tikus sulit didapat, tak jarang burung ini menjelajah kawasan berburunya hingga 12 km dari sarangnya. Hebatnya, dia memiliki pendengaran sangat tajam dan mampu mendengar suara tikus dari jarak 500 meter.

     Kelebihan sifat burung hantu seperti ini sangat membantu upaya menjadikannya sebagai pengendali hama tikus yang alami di daerah perkebunan. Burung hantu jenis Tyto alba merupakan spesies yang saat ini disebar dikawasan perkebunan di daerah Riau.

Manfaat kehadiran burung hantu ini sangat terasa dan cara ini terbilang ramah lingkungan dan saya bilang sangat efisien.

Keterbatasan dan Kesulitan Penerapan Teknologi Tikus di Lapangan

*  Keberadaan tikus di lahan garapan dianggap biasa.
* Tikus yang menghuni fasilitas umum, merupakan habitat alternatif.
*  Pengendalian belum memperhatikan perilaku, biologi, dan ekologi tikus.
*  Kegandrungan petani menggunakan racun akut.
*  Penurunan drastis populasi musuh alami oleh perburuan liar.
*  Keterbatasan sarana, tenaga, dan kemampuan untuk mengkoordinasi petani.
* Petani berlahan terbatas sangat lemah dalam membiayai keperluan pengendalian, mencari nafkah di luar bidang pertanian.
*  Petani berlahan luas bertempat tinggal jauh diluar desa.
*  Lokasi berbatu dan bertingkat/ teras disenangi tikus untuk berlindung.

Potensi Tyto alba Sebagai Agen Pengendali hayati

* Pakan yang spesifik, yaitu 98 - 99% tikus, 1 – 2% adalah mamalia lainnya seperti burung   kecil, ular, katak, jenis cecurut, dan kadal.
* Mampu mengkonsumsi tikus sampai 5 (lima) ekor per hari.

Keuntungan:

- Mampu menekan populasi tikus secara efektif.
- Tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.
- Tidak memerlukan biaya dan tenaga yang besar serta;
 - Meningkatkan efisiensi waktu petani.

Penerapan Tyto alba Sebagai Pengendali Tikus

• Tyto alba untuk pengendalian tikus pada pertanaman padi yang dilaksanakan sejak tahun 1989 di Malaysia, dapat menekan kerugian oleh tikus dari 15 – 20% menjadi hanya 3% pada tahun 1997 dan 1998

• Penggunaan burung hantu untuk pengendalian tikus sawah sangat berhasil dilaksanakan di Cherrang Rotan, Klentan Malaysia

• Penenmpatan kotak sarang burung hantu untuk pengamanan areal pertanaman padi di 11 (sebelas) Negara Bagian Malaysia sampai tahun 1998 mencapai 3.589 kotak sarang untuk mengamankan seluas 271.242 ha atau 1 (satu) kotak sarang untuk sekitar 75 hektar areal sawah

• Di Indonesia, pemanfaatan burung hantu untuk pengendalian tikus pertama kali dilakukan di areal perkebunana kelapa sawit di Sumatera Utara dan cukup berhasil

• Selanjutnya dikembangkan untuk pengendalian tikus dibeberapa wiayah di propinsi Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Wilayah propinsi lainnya

• Walaupun jumlah dan tingkat keberhasilan secara kuantitatif kurang diketahui, namun dirasakan cukup efektif untuk mengendalikan tikus sawah
  
III.     PEMBAHASAN

3.1.  Pengendalian Tikus yang Ramah Lingkungan

Tikus merupakan hewan pengerat yang membawa petaka bagi petani. Serangan hama tikus akhir-akhir ini begitu merata di areal persawahan maupun perkebunan. Tingkat serangan akan semakin tinggi pada saat musim kemarau. Petani tidak panen dan kerugian jutaan rupiah sudah pasti.

Musuh alami tikus sudah banyak yang binasa akibat dari ulah manusia itu sendiri. Ular merupakan salah satu musuh alami yang bisa mengendalikan tikus, namun sayangnya ular banyak diburu untuk dimanfaatkan daging dan empedunya. Selain ulah manusia musuh alami juga banyak yang mati akibat penggunaan pestisida yang berlebihan sehingga mencemari air di areal persawahan maupun perkebunan.

Penggunaan rodentisida memang efektif tapi sangat berdampak kurang baik bagi lingkungan. Adapun kelemahan/kekurangan akibat penggunaan rodentisida antara lain :

1. Racun yang sangat bahaya bagi makhluk hidup lainnya (manusia dan hewan ternak)
2. Kemasan rodentisida terkadang tercecer diareal persawahan/perkebunan sehingga mencemari lingkungan.
3. Racun dapat mencemari sungai maupun perairan yang dikonsumsi oleh penduduk.
4. Bau menyengat dari tikus yang mati akibat terkena racun rodentisida
5. Kurang efektif bila areal persawahan/perkebunan sangat luas.
6. Mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli rodentisida dan ongkos tenaga kerja.
7. Hewan tikus sangat cerdik. Apabila sudah ada yang terkena racun, maka tikus lainnya akan sangat berhati-hati.

Kelemahan-kelemahan tersebut diatas perlu diupayakan alternatif lainnya yang lebih efektif dan efisien. Dari referensi yang ada menyatakan bahwa burung hantu merupakan salah satu alternatif untuk mengendalikan tikus di areal persawahan maupun perkebunan namun sayang tidak semua petani melaksanakannya karena masih adanya mitos memelihara burung hantu membuat sial dan burung hantu sudah terlanjur menyandang image yang jelek dengan nama “hantu” tersebut. 

Padahal burung hantu sangat efektif dan efisien dalam mengendalikan hama tikus. Naluri burung hantu membunuh tikus tidak perlu diragukan lagi. Mata yang tajam dapat memantau sampai radius 500 meter, dengan gerakan yang lincah tanpa menimbulkan suara dan cengkeraman yang mematikan sangat menakutkan bagi tikus.

Keuntungan pengendalian tikus dengan burung hantu adalah :

-          Mampu menekan populasi tikus secara efektif.
-          Tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.
-          Tidak memerlukan biaya dan tenaga yang besar serta;
-           Meningkatkan efisiensi waktu petani.
-          Burung hantu tidak bersifat migratory/berpindah-pindah
-          Bisa dimanfaatkan oleh beberapa petani.

3.2.  Permasalahan-permasalahan pengendalian tikus dengan burung hantu

Burung hantu (Tyto alba) yang sudah terbukti efektif dan efisien mengendalikan hama tikus masih menyimpan permasalahan. Adapun permasalaha-permasalahan tersebut antara lain :

-  Kurang tersedianya burung hantu yang dihasilkan dari budidaya.
-  Harga burung hantu hasil budidaya relatif mahal (berkisar Rp. 300.000-Rp.400.000/ekor).
-  Masih adanya orang iseng untuk membunuhnya.
-  Masih melekatnya mitos kurang baik apabila pelihara burung hantu.
-  Minimnya informasi tentang manfaat burung hantu untuk mengendalikan hama tikus.
-  Peran Pemerintah yang sangat kurang dalam mendukung gerakan pemberantasan hama tikus dengan burung hantu.

3.3.   Upaya mengatasi permasalahan-permasalahan :

-  Untuk mengatasi kurang tersedianya burung hantu hasil budidaya yaitu dengan cara petani belajar kepada petani lain yang sudah bisa membudidayakan burung hantu dengan difasilitasi oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan.

-  Berhasilnya petani membudidayakan burung hantu maka akan menghemat biaya pengeluaran untuk membeli burung hantu.

- Petani bersama-sama instansi terkait memberikan penyuluhan kepada warga setempat untuk tidak membunuh burung hantu karena dimanfaatkan untuk mengendalikan hama tikus. Perlunya dibuat peraturan daerah untuk melindungi keberadaan burung hantu dan sangsi yang berat bagi yang melanggarnya.

- Untuk mengikis mitos yang menyesatkan maka tugas para ulama dan ustad untuk menjelaskan bahwa kita tidak boleh percaya dengan mitos yang menyesatkan dan dikembalikan semuanya kepada Allah SWT.

- Media masa maupun elektronik juga diminta peran aktifnya untuk memberikan informasi mengenai manfaat burung hantu didalam mengendalikan hama tikus yang ramah lingkungan dan membantu petani kita.

- Bagaimanapun juga peran serta Pemerintah sangat diharapkan. Seharusnya Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan mengupayakan anggaran untuk membudidayakan burung hantu secara besar-besaran yang kemudian dibagikan secara gratis kepada petani untuk mengendalikan hama tikus.

By Latief Imanadi (Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya)

Mengenal lebih jauh Barn Owl / Tyto Alba / Serak Jawa

program penempatan nest box/pagupon dan aviary/polier/kandang penangkaran burung hantu tyto alba di daerah Kebumen, Jawa Tengah. Telp : 0888.2753.091


Burung hantu spesies Tyto Alba sering pula barn owl atau serak jawa. Persebaran burung hantu  jenis ini meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Laos, Burma, Cina, Thailand, Bahama, Dominika, dan Grenada. Habitat aslinya adalah wilayah hutan. Jenis burung hantu ini biasanya membuat sarang pada pohon-pohon kayu besar yang berlubang atau pepohonan yang tinggi. 

Namun, jenis burung hantu ini juga sering hidup dan membuat sarang di bangunan-bangunan tua, menara masjid, gereja, ataupun gudang. Salah satu faktor yang menjadikan jenis burung hantu ini suka hidup dan bersarang di dekat hunian manusia adalah karena ketersediaan bahan makanan sepanjang tahun.

Keunggulan Burung Hantu Tyto Alba

Ciri-ciri burung hantu Tyto Alba terutama terlihat pada warna bulunya. Bulu sayap bagian atas dan punggung berwarna kelabu agak kekuning-kuningan berbecak halus. Sedangkan bulu bagian bawah sayap, dada, dan perut terdapat bintik-bintik hitam di antara bulu-bulu yang berwarna putih, baik pada burung yang betina maupun yang jantan. Pada saat butung hantu Tyto Alba ini masih muda, warna bulunya terlihat lebih tua dan gelap. Ciri lain dari jenis burung hantu ini dalah piringan wajah berwarna putih dan melebar berbentuk hati.

Burung hantu Tyto Alba memiliki bola mata berwarna hitam dan iris mata berwarna cokelat gelap. Arah mata  menghadap ke depan. Paruhnya bengkok dan kuat sebagaimana burung pemangsa daging lainnya. Paruh dan kakinya berwarna kuning kotor. Kaki berbulu dan jari-jarinya berkuku tajam sehingga memiliki daya cengkeram yang kuat. 

Jenis burung hantu ini memiliki ukuran panjang tubuh antara 25 cm -30 cm. Ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan dengan yang jantan. Bentangan sayapnya mencapai 24 cm - 26 cm dan bobot badannya dapat mencapai 450 g - 600 g.

Makanan spesifik butung hantu Tyto Alba adalah jenis tikus. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kotoran burung hantu Tyto Alba 99% adalah tikus, sedangkan yang 1% adalah serangga. Burung hantu Tyto Alba memiliki kemampuan berburu tikus sangat tinggi, tangkas dan cekatan. Di samping itu, burung hantu Tyto Alba juga mampu menyambar dan mengejar tikus di atas tanah dengan cepat dan tepat.

Burung hantu Tyto Alba mampu mengkonsumsi 2-3 ekor perhari dan mampu berburu tikus melebihi jumlah yang dimakannya. Daya penglihatan dan pendengarannya pada malam hari sangat tajam. Burung hantu Tyto Alba mampu mendengar suara (cicitan) tikus pada jarak 500m. Penglihatan burung hantu Tyto Alba sangat tajam karena ia memiliki sinar infra merah sehingga mampu melihat dengan jelas pada malam hari yang gelap. Disamping itu, burung hantu Tyto Alba juga memiliki  bulu yang di lapisi lilin sehingga ketika terbang menyambar tikus tidak bersuara.

Burung hantu Tyto Alba memiliki kawasan berburu yang tetap dan teratur. Ia tidak akan meninggalkan kawasan perburuannya selama di tempat tersebut masih ada tikus. Burung hantu Tyto Alba mempunyai daya jelajah terbang sejauh 12 km. Walaupun begitu, burung hantu Tyto Alba tetap setia pada kandannya selama kandang tersebut masih dirasa aman.

Faktor-faktor pendorong yang mempengaruhi cepatnya penyebaran burung hantu Tyto Alba adalah sebagai berrikut:

Burung hantu Tyto Alba termasuk binatang berumah satu (monoceus) yang mengasuh anak-anaknya hingga dewasa. Setelah dewasa anak burung hantu akan pergi meninggalkan induknya untuk mencari pasangan dan sarang baru.

Burung hantu Tyto Alba mampu berkembang biak dengan cepat dan mampu bertahan hidup selama 4,5 tahun.

Populasi burung hantu Tyto Alba terjadi seiring dengan ketersediaan tikus. Apabila populasi tikus berkembang cukup tinggi, maka populasi burung hantu Tyto Alba akan ikut meningkat.

Burung hantu Tyto Alba menempati sarang selama 3-249 hari atau mengikuti daur hidup alam.

Sumber : Buku "Burung Hantu Pengendali Tikus Alami" Karya S. Bambang Widodo, Penerbit Kanisius.

Pemanfaatan Tyto Alba

Pemanfaatan burung hantu untuk mengendalikan hama tikus secara alami memerlukan persiapan yang matang. Persiapan yang di perlukan adalah pembuatan pagupon/nest box/rumah burung buatan, penempatan nest box yang tepat dan kontrol efektifitas burung hantu dalam pengendalian hama tikus.

A. Pembuatan Nest Box

Nest Box burung hantu membutuhkan perlengkapan berupa sarang untuk tidur dan bertelur, tempat bertengger, tempat minum, dan pakan berupa tikus secara kontinu. Dengan ketersediaan pakan yang kontinu, maka burung hantu akan memperoleh makanan minimal 2 ekor tikus setiap hari untuk satu pasang burung hantu.

Burung hantu merupakan bangsa burung yang mempunyai kebiasaan hidup secara teratur. Kebiasaan hidup terartur ini dapat dilihat dari pembagian sarangnya. Sarang burung hantu terbagi menjadi 2 bagian, yaitu tempat tidur dan tempat santai. Burung hantu menggunakan tempat-tempat tersebut sesuai dengan fungsinya masing-masing secara disiplin. Tempat tidur hanya digunakan untuk beristirahat, bertelur, mengerami telur, dan untuk mengasuh anak-anaknya. Sedangkan tempat santai digunakan untuk bercengkrama dan menyantap hasil buruannya. Di tempat santai tersebut, sering ditemukan bulu-bulu tikus dan muntahan balik sisa makanan yang tidak tercerna (resurgitasi/pelet/hairball).

Nest Box burung hantu perlu dibuatkan dua pintu, yakni pintu depan dan pintu samping. Pintu depan diletakkan di tempat santai dan selalu terbuka. Fungsi pintu depan adalah untuk keluar masuk nest box. Pintu depan ini dapat dibuat dengan ukuran 30 cm x 40 cm. Sedangkan pintu samping diletakkan di antara tempat santai dan tempat tidur. Pintu samping ini berfungsi sebagai pintu untuk mengintip dan harus selalu tertutup. 

Pintu samping dibuat dengan ukuran 40 cm x 40 cm. Ukuran tempat tidur harus dibuat lebih besar daripada tempat santai. Ukuran nest box secara keseluruhan adalah 1 m x 70 cm x 50 cm. Bahan untuk pembuatan nest box burung hantu sebaiknya berupa papan kayu (misalnya kayu sengon) atau tripleks yang dicat warna gelap sesuai dengan kebiasaan hidup burung hantu di habitat aslinya. Sedangkan untuk atap kandang dapat menggunakan seng, asbes, kayu bercat hitam, daun nipah, atau ijuk.

B. Penempatan Nest Box

Nest Box burung hantu harus diletakkan di tempat yang mendukung kelangsungan hidup burung hantu. Penenmpatan nest box yang tepat akan memudahkan burung hantu mengamati mangsa, mencapai sarang, dan terbebas dari berbagai gangguan. Namun, penempatan nest box burung di areal pertanian yang satu dan di areal pertanian yang lain berbeda-beda.

1. Areal Persawahan

Nest Box burung hantu di areal persawahan dapat ditempatkan pada pohon yang tinggi dan sedikit terlindung oleh tajuk pohon agar temperatur di dalam nest box tidak terlalu tinggi. Hindari pemasangan nest box burung hanty di tempat yang terlalu rimbun karena akan menghalangi pandangan burung hantu pada saat mengincar mangsanya. Pintu nest box di pasang menghadap ke pepohonan di sekitarnya dan agak jauh jauh dari pepohonan tersebut. Pada saat keluar dari sarang, burung hantu tidak langsung terbang, namun hinggap dulu di atas pohon atau dahan di depan nest box. Kebiasaan ini sering dilakukan oleh burung hantu untuk mengamati mangsa dan menentukan arah terbang.

Bila di sekitar areal persawahan tidak terdapat pohon yang besar, nest box dapat ditempatkan di sekitar perumahan. Pilihlah perumahan atau pemukiman yang situasinya tidak terlalu ramai dan tidak di tepi jalan raya. Suasana yang terlalu ramai akan mengusik burung hantu sehingga mereka akan meninggalkan sarangnya. Penempatan nest box burung hantu yang ideal untuk daerah persawahan adalah satu nest box untuk tiap 10 hektar lahan.

2. Areal Perkebunan

Tikus sering menyerang tanaman oerkebuananm terutama perkebunan kelapa sawit. Nest box burung hantu di areal perkebunan kelapa sawit pada prinsipnya sama dengan penempatan nest  box di areal persawahan. Namun, nest box di areal perkebunan harus di letakkan di tengah-tengah antara pohon kelapa sawit sehingga cukup terlindung dan tidak kejatuhan pelepah daun. Jarak penempatan nest box di areal perkebunan adalah satu nest box untuk tiap 20 hektar. Jarak penempatan nest box burung ini relatif lebih renggang karena populasi tanaman tidak sepadat tanaman di areal persawahan.

3. Memasukkan Burung Hantu ke Nest Box

Burung hantu yang akan dimasukkan ke dalam nest box harus dalam keadaan kenyang. Setelah burung hantu dimasukkan ke dalam nest box, semua pintu nest box di tutup agar burung tersebut beradaptasi terlebih dahuludengan tempatnya yang baru. Selama beradaptasi dengan tempat yang baru, burung hantu tersebut harus di beri makan berupa tikus. Pemberian pakan dilakukan pada sore hari. Nest Box harus dibersihkan setiap pagi agar kesehatan burung tetap terjamin.

Setelah 3-7 hari, burung hantu dapat dilepas dari nest box.. Pelepasan burung hantu dilakukan pada malam hari dengan cara membuka pintu nest box. Pada saat melepas burung hantu, sebaiknya tidak menggunakan cahaya yang terlalu terang, tetapi cukup menggunakan lampu senter saja. Setelah  burung hantu dilepas, pintu  nest box tidak perlu ditutup lagi.

Sumber : Buku "Burung Hantu Pengendali Tikus Alami" Karya S. Bambang Widodo, Penerbit Kanisius.

Penangkaran Tyto Alba

Diantara sekian banyak burung hantu, spesies Tyto Alba/Barn Owl terbukti paling efektif untuk mengendalikan hama tikus. Selain itu, burung hantu ini memiliki beberpaa kelebihan, antara lain :

1. Memiliki ukuran tubuh relatif lebih besar daripada spesies burung hantu yang lain.
2. Memiliki kemampuan membunuh dan memangsa tikus cukup baik.
3. Mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
4. Cepat berkembang biak.

A. Perkembangbiakan Alami

Dalam satu tahun, burung hantu ini mampu bertelur sebanyak dua kali, yakni pada bulan Mei sampai Juli. Telur-telurnya ditempatkan di dalam lubang pohon yang tinggi, bekas sarang burung pemangsa yang lain, atau pada bangunan. Jumlah telur bervariasi antara 5-11 butir/induk/musim kawin. Ukuran telur jenis burung hantu ini lebih kecil seikit daripada telur ayam kampung dan cangkang telur berwarna putih. Telur sejumlah 5-11 butir tersebu dihasilkan dalam jangka waktu 2-3 minggu karena tidak setiap burung ini bertelur. Masa peletakkan telur berlangsung setiap 1-3 hari sekali.

Ketika telur yang dihasilkan telah berjumlah 3-4 butir, burung hantu Tyto Alba mulai mengerami telurnya sambil terus kawin dan bertelur. Jenis burung hantu ini akan berhenti bertelur setelah jumlah telurnya mencapai 11 butir. Karena masa bertelur dan mengerami berbeda, maka masa penetasan telur menjadi tidak seragam. Telur pertama hingga telur keempat biasanya menetas secara bersamaan karena masa pengeramannya dimulai pada waktu yang sama. Sedangkan telur kelima hingga telur paling akhi, masa tetasnya akan mundur masing-masing 2-3 hari. Dengan demikian, waktu penetasan telur menjadi lama, yakni sekitar satu bulan.

Perbedaan masa tetas menyebabkan tingkat pertumbuhan tiap kelompok penetasan berbeda. Anak tertua biasanya paling kuat makan dan selalu menang dalam berebut pakan. Sedangkan anak termuda selalu kalah sehingga tubuhnya paling lemah di bandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Akibatnya, pertumbuhan anak burung yang termuda sering terganggu, bahkan sering tumbuh kurang normal atau mati.

Dari sekian banyak telur yang dihasilkan, terkadang banyak pula telur yang tidak menetas (keberhasilan penetasan 0-100%). Kegagalan penetasan telur biasanya terjadi pada saat rawan pangan karena waktu untuk mengeram digunakan untuk mencari makan. Namun kegagalan penetasan telur juga dapat disebabkan oleh kanibalisme induk, suhu, dan kelembaban udara  yang ekstrim, serta serangan hama ataupun penyakit. 

Sifat kanibalisme induk sering muncul pada saat paceklik, yakni pada saat tikus sukar didapat. Anak yang paling lemah dan terkecil umumnya sering menjadi sasaran sifat kanibalisme induknya, kemudian menyusul anak yang agak kuat. Bila kerawanan pangan terus berlanjut, maka seluruh anak yang dihasilkan akan di makan semuanya.

Perkembangbiakan burung hantu Tyto Alba sangat dipengaruhi oleh populasi tikus sebagai pakan alami. Jumlah burung muda yang berhasil mencapai umur dewasa sekitar 3-4 ekor. Rendahnya angka populasi burung hantu antara lain dipengaruhi oleh faktor ketersediaan makanan dan keamanan lingkungan alamnya.

Bila anakan burung hantu dapat hidup dan tumbuh dengan selamat, maka pada saat mencapai umur sekitar 2,5-3 bulan burung hantu muda tersebut akan segera meninggalkan induk dan saudara-saudaranya untuk mencapai tempat baru. Pada usia sekitar 8 bulan, burung hantu muda ini mencari pasangan hidupnya. Selanjutnya, mereka akan kawin dan berkembang biak terus menerus setiap 4,5-5,5 bulan sekali.

B. Perkembangbiakan Buatan

Burung hantu dapat dikembangbiakan dengan cara ditangkarkan. Penangkaran burung hantu ini membutuhkan kandang yang cukup luas, sarang yang menyerupai habitat aslinya, ketersediaan tikus yang cukup sebagai bahan pakan. Dengan ketersediaan tikus yang cukup, maka burung hantu yang ditangkarkan dapat memperoleh makanan minimal 2 ekor tikus setiap hari untuk satu ekor burung hantu.

Dilihat dari prospek, tingkat kebutuhan tiap areal pertanian, permintaan, dan biaya yang dikeluarkan untuk pengendalian tikus, maka penangkaran burung hantu dapat menjadi peluang usaha yang menguntungkan. Di samping itu, cara budidaya, biaya perawatan, dan pemelihaaraannya relatif murah. Adapun persyaratan yang harus diperhatikan dalam menangkarkan burung hantu adalah sebagai berikut.

1. Pemilihan Bakalan untuk Induk

Anak (bakalan) burung hantu yang hendak ditangkarkan minimum sudah berumur 3 bulan atau sudah dapat di pastikan bahwa anak burung hantu tersebut adalah jantan atau betina. Ciri-ciri burung hantu jantan adalah bulu leher depan berwarna putih berbintik hitam dan ukuran tubuhnya kecil. Sedangkan ciri-ciri burung hantu betina adalah bulu leher depan berwarna kuning berbintik hitam dan ukuran tubuhnya lebih besar daripada yang jantan.

Penjodohan induk jantan dan betina dilakukan dengan melepas beberapa pasang burung hantu dalam kandang penangkaran (polier/aviary) yang cukup besar. Burung hantu tersebut biasanya akan memilih pasangannya sendiri-sendiri. Penjodohan secara paksa tidak dianjurkan karena burung hantu mudah sekali mengalami stress.

2. Kandang Penangkaran Burung

Kandang penangkaran (polier/aviary) untuk burung hantu dapat dibuat dengan konstruksi besi berpagar anyaman kawat berukuran 1,5 cm  x 1,5 cm. Ukuran kandang penangkaran yang ideal untuk burung hantu adalah 2m x 3m x 4m. Kandang penangkaran tersebut sedapat mungkin berada pada tempat yang sejuk dan jauh dari keramaian.

Kandang penangkaran perlu di lengkapi dengan pagupon/nestbox/rumah burung, tenggeran, dan tempat minum. Pada bagian alas dan pinggir kandang penangkaran diplester dengan pasir semen dan di beri tembok stinggi 0,5m. Konstruksi kandang seperti ini akan memudahkan pekerja untuk membersihkan kotoran dan mencegah tikus yang diberikan kepada burung lari keluar kandang.

NB : standar aviary untuk barn owl/tyto alba di New South Wales adalah 3m x 6m x 3m.

Sumber : Buku "Burung Hantu Pengendali Tikus Alami" Karya S. Bambang Widodo, Penerbit Kanisius.

Tidak ada komentar: