klik sayangi bumi maka akan disayang langitan

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

(HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

*

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

surat (30) ar rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (٤١)

surat (5) al maa'idah ayat 32

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ (٣٢)

surat 4 An Nisa' ayat 114

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

surat 3 Āli 'Imrān ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*

klik nasehat

klik emak

*

Jumat, 26 Januari 2018

Obsessive Compulsive Disorder

klik alodokter

Obsessive compulsive disorder (OCD) adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan diliputi kecemasan atau ketakutan.

Gangguan obsesif kompulsif dapat dialami oleh siapa saja. Meski lebih sering terjadi di awal usia dewasa, OCD juga bisa terjadi pada anak-anak atau remaja. Penderita OCD terkadang sudah menyadari bahwa pikiran dan tindakannya tersebut berlebihan, tetapi tetap merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghindarinya.

Penyebab dan Faktor Risiko OCD

Penyebab OCD belum diketahui secara pasti, namun terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami OCD, yaitu:

1. Menderita gangguan mental
2. Memiliki anggota keluarga yang menderita OCD
3. Pernah mengalami peristiwa tidak menyenangkan

Gejala dan Diagnosis OCD

Gejala OCD adalah gangguan pikiran yang menimbulkan rasa cemas atau takut terus menerus, dan perilaku yang dilakukan berulang kali guna menghilangkan kecemasan tersebut. Sebagai contoh, penderita OCD yang takut terkena penyakit, akan mencuci tangan secara berlebihan atau terlalu sering membersihkan rumah. Gejala ini perlu dibedakan dengan OCPD (obsessive compulsive personality disorder).

Psikiater akan melakukan wawancara secara mendalam mengenai pikiran dan perilaku yang timbul, serta menggali dampaknya pada kehidupan penderita. Psikiater juga akan memastikan dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan, untuk melihat adanya penyakit lain yang bisa mengakibatkan munculnya gejala OCD.

Pengobatan OCD

Pengobatan OCD bertujuan untuk mengendalikan gejala yang muncul, sehingga metode yang dilakukan tergantung kepada tingkat keparahan gejala. Metode pengobatan bagi penderita OCD dapat berupa terapi perilaku kognitif, pemberian obat antidepresan, atau kombinasi dari kedua metode tersebut. Pada beberapa penderita, pengobatan perlu dilakukan seumur hidup.



Gejala OCD

Gejala OCD meliputi pikiran yang mengganggu dan timbul terus menerus (obsesif), serta perilaku yang dilakukan berulang-ulang (kompulsif). Namun, beberapa penderita OCD hanya mengalami pikiran obsesif tanpa disertai perilaku kompulsif, atau sebaliknya.

Pikiran dan perilaku ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, dan hubungan sosial penderita, baik disadari maupun tidak.

Pikiran Obsesif

Obsesif adalah gangguan pikiran yang terjadi terus menerus dan menimbulkan rasa cemas atau takut. Semua orang kadang mengalami hal ini, tetapi pada penderita OCD, pikiran tersebut muncul berulang-ulang dan menetap. Pikiran obsesif bisa tiba-tiba muncul ketika penderita OCD sedang memikirkan atau melakukan hal lain.

Beberapa pikiran obsesif antara lain:

1. Takut kotor atau terkena penyakit, misalnya menghindari bersalaman dengan orang lain atau menyentuh benda yang disentuh banyak orang.
2. Sangat menginginkan segala sesuatu tersusun selaras atau teratur dan tidak senang bila melihat sekumpulan benda menghadap ke arah yang berbeda.
3. Takut melakukan sesuatu yang bisa berdampak buruk pada diri sendiri dan orang lain, misalnya merasa ragu apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.

Perilaku Kompulsif
Kompulsif adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang, guna mengurangi rasa cemas atau takut akibat pikiran obsesif. Perasaan lega sesaat bisa muncul setelah melakukan perilaku kompulsif, namun kemudian gejala obsesif akan muncul kembali dan membuat penderita mengulangi perilaku kompulsif.

Penderita OCD bisa saja menyadari bahwa perilaku yang mereka lakukan berlebihan. Akan tetapi, mereka merasa harus melakukannya dan tidak dapat menghentikannya.

Gejala perilaku kompulsif meliputi:

1. Mencuci tangan berkali-kali sampai lecet.
2. Menyusun benda menghadap ke arah yang sama.
3. Memeriksa berulang kali apakah sudah mematikan kompor atau mengunci pintu.
4. Gejala gangguan obsesif kompulsif sering kali menyerang di awal usia dewasa dan cenderung memburuk seiring usia penderita bertambah. Selain memburuk seiring bertambahnya usia, gejala OCD juga semakin parah bila penderita mengalami stres.

Kapan Harus ke Dokter

Tidak semua pikiran atau perilaku yang menimbulkan rasa cemas dikategorikan sebagai obsesif kompulsif. Wajar ketika kadang-kadang seseorang melakukan cek ulang terhadap suatu tindakan yang sudah dilakukan. Pikiran dan perilaku tersebut dianggap tidak wajar bila:

1. Paling tidak dalam 1 hari menghabiskan waktu 1 jam untuk memikirkan atau melakukan tindakan tersebut.
2. Tidak mendapatkan kesenangan dari perilakunya, tetapi hanya rasa lega yang bertahan sementara.
3. Tidak dapat mengendalikannya, meskipun menyadari pikiran atau perilaku tersebut sudah berlebihan.
4. Perilaku dan perbuatan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Segera periksakan diri ke psikiater apabila sudah mengalami kondisi seperti ini. Jika tidak segera ditangani, OCD bisa berlangsung bertahun-tahun dan menyebabkan depresi. Pada tingkatan yang parah, depresi dapat mendorong penderitanya untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Penyebab OCD

Penyebab gangguan obsesif kompulsif belum diketahui secara pasti, tetapi kondisi ini diduga terkait dengan faktor genetik, lingkungan, dan perubahan pada senyawa kimia otak.

Di samping itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan obsesif kompulsif, antara lain:

1. Memiliki orang tua atau saudara kandung yang menderita gangguan obsesif kompulsif.
2. Menderita gangguan mental lain, seperti gangguan kecemasan, gangguan bipolar, depresi, atau sindrom Tourette.
3. Pernah mengalami peristiwa yang menyebabkan trauma atau stres, seperti perundungan (bullying), kekerasan fisik, atau pelecehan seksual.
4. Memiliki kepribadian yang sangat disiplin, terlalu teliti, serta ingin semua hal terlihat rapi.

Pada anak-anak, infeksi bakteri Streptococcus dapat membuat gejala OCD timbul secara mendadak atau memburuk tiba-tiba.

Diagnosis OCD

Psikiater akan menanyakan pikiran dan perilaku apa muncul secara berulang, dan menggalinya lebih dalam melalui wawancara dan kuesioner atau psikotes. Selain mewawancarai penderita, psikiater juga akan melakukan wawancara dengan keluarga atau orang terdekat penderita.

Setelah itu, psikiater akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan tidak ada kelainan organ yang mengakibatkan timbulnya gejala. Dokter dapat melakukan tes darah untuk melihat jumlah sel darah, fungsi kelenjar tiroid, serta ada tidaknya alkohol atau NAPZA yang dapat memengaruhi pikiran dan perilaku seseorang.

Setelah itu, psikiater akan menilai dampak OCD terhadap kehidupan sehari-hari penderita, apakah sudah mengganggu prestasi pendidikan, kualitas pekerjaan, hubungan sosial dengan orang lain, atau aktivitas rutinnya.

Keparahan gejala yang ditimbulkan dari OCD bisa bermacam-macam, sehingga penting untuk mengetahui isi pikiran dan alasan perilaku penderita, agar psikiater dapat menentukan metode pengobatan yang paling sesuai.

Pengobatan OCD

Pengobatan gangguan obsesif kompulsif bertujuan untuk mengendalikan gejala, agar pasien bisa menjalani aktivitas dengan baik. Durasi pengobatan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala.

Metode pengobatan OCD meliputi terapi perilaku kognitif dan pemberian obat antidepresan. Kedua metode tersebut dapat dikombinasikan, atau cukup diterapkan sebagai pengobatan tunggal.

Terapi perilaku kognitif

Pada terapi perilaku kognitif, pasien akan dihadapkan pada kondisi yang sering kali dihindarinya. Misalnya, psikiater akan meminta penderita yang takut kuman penyakit untuk menyentuh tanah, kemudian mengajarkan cara mengatasi rasa takutnya tersebut. Terapi perilaku kognitif bisa dilakukan secara individu atau berkelompok.

Meskipun terapi ini mungkin terdengar menakutkan bagi penderita, tetapi kecemasan penderita akan berkurang secara bertahap, seiring jumlah terapi yang dijalaninya.

Penderita gangguan obsesif kompulsif ringan rata-rata membutuhkan total waktu 10 jam untuk sesi pertemuan dengan psikiater. Sedangkan untuk gejala yang lebih parah, dibutuhkan sesi pertemuan yang lebih panjang.

Obat antidepresan

Obat antidepresan diberikan bila terapi perilaku kognitif tidak membantu meredakan gejala, atau bila gejala yang dialami cukup parah. Manfaat antidepresan akan terasa setelah 3 bulan pemakaian. Namun pada banyak kasus, pasien perlu mengonsumsi obat ini sampai setidaknya 1 tahun.

Jenis obat antidepresan yang umum digunakan untuk mengatasi OCD meliputi:

1. Fluoxetine
2. Fluvoxamine
3. Sertraline

Seluruh pengobatan yang dilakukan tidak menjamin kesembuhan, tetapi dapat membantu penderita untuk mengendalikan gejala. Itulah sebabnya, beberapa penderita OCD perlu menjalani pengobatan seumur hidup.

Tidak ada komentar: