klik sayangi bumi maka akan disayang langitan

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

(HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

*

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

surat (30) ar rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (٤١)

surat (5) al maa'idah ayat 32

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ (٣٢)

surat 4 An Nisa' ayat 114

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

surat 3 Āli 'Imrān ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*

klik nasehat

klik emak

*

Minggu, 04 Oktober 2020

Signalong Indonesia

GMT or UTC


Mecca


Surabaya


klik qibla finder

Prof Budiyanto, Guru Besar Pencetus Sistem Isyarat Signalong Indonesia.

Terlecut Obrolan Simbok dan Kedua Kakak.

klik Jurnal

klik https://scholar.google.co.id/citations?user=0Uqvy3UAAAAJ&hl=id

klik Kieron Sheehy

klik https://youtu.be/OJ9JIuLzaS4

klik https://www.youtube.com/channel/UCdV4Vh2qQVRSHKEUCld8S4g

klik https://instagram.com/signalong.indonesia

klik https://instagram.com/psldunesa

klik https://instagram.com/sekolah_galuh_handayani


nb : jika anda ingin membantu pendidikan dan pengajaran para sahabat tuna rungu, sediakan subtitle Bahasa Indonesia/Inggris atau penerjemah bahasa isyarat (dalam setiap postingan video YouTube), 

mari Kampanyekan Pemberian Subtitle dan Penerjemah Bahasa Isyarat, matur nuwun 🤓



FEATURES


Jawa Pos Jumat Legi 2 Oktober 2020, 14:29:39 WIB halaman 1

klik Jawa Pos

pewarta : SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya, Jawa Pos

Sampai kelas IV SR, Budiyanto tak bisa membaca. Hanya menulis dan berhitung. Signalong yang dikembangkannya lebih banyak menggunakan satu isyarat untuk satu kata, bukan satu isyarat untuk satu huruf.

SIANG itu Budiyanto kecil berjalan pulang dari sekolah menuju rumahnya di Sleman, Jogjakarta. Sesampai di depan rumah, dia menghentikan langkah, tak langsung masuk.

Anyaman gedek yang menyelimuti orang-orang dan seisi rumah itu membuat suara obrolan dari dalam rumah terdengar sayup-sayup ke telinga Budi.

’’Wis, adikmu ojok kok takoni munggah opo ora munggah. Sing penting dekne gelem sekolah (Sudah, adikmu jangan ditanyai naik kelas atau tidak. Yang penting dia mau sekolah, Red).’’

’’Itu suara simbok,’’ batin Budi. ’’Kok simbok ngomong begitu?’’ tanyanya dalam hati yang mulai kelu mendengar kalimat sang ibu.


Budi lantas melangkah masuk ke rumah. Perasaannya begitu tercabik-cabik melihat simboknya, Sugiyem, ngobrol bertiga dengan kakak-kakaknya, Wajinem dan Tugiyati. Rupanya, keluarganya sendiri menganggap Budi adalah anak yang bodoh. Padahal, sepengetahuan Budi, studinya di Sekolah Rakyat (SR/setingkat SD sekarang) Krisan, Banyurejo, cukup baik dan lancar-lancar saja.

Dada Budi pun sesak. Pelupuk matanya sebak. Tetesan air bening mengalir dari ujung mata anak kecil itu, membasahi siang yang begitu terik dan bolong.


Ingatan peristiwa saat Budi duduk di kelas IV SR itu sangat membekas di hatinya. Budi mengakui, sampai kelas IV SR, dirinya memang tak bisa membaca.

Bisanya hanya menulis dan berhitung. Namun, dengan segenap usaha untuk belajar, pada kelas VI, dia sukses melewati ujian negara dan berhasil lulus dari SR. Dari 40 siswa, hanya 3 orang yang dinyatakan lulus. Budi salah satunya.

Budi pun melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Namun, mentalnya telanjur terguncang akibat peristiwa di siang bolong itu, saat dia masih kelas IV SR.


Barulah saat mengenyam pendidikan di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Jogjakarta, Budi menemukan fakta baru. Di sekolah setara perguruan tinggi itu, dia mendapati bahwa dirinya pernah mengalami kesulitan belajar.

’’Saya menderita specific learning difficulties. Itu adalah kesulitan belajar anak di bidang reading (membaca), writing (menulis), dan arithmetic (aritmetika). Nah, saya kesulitan dalam bidang reading,’’ kata Budi kepada Jawa Pos Jumat pekan lalu (25/9).

Nama lengkapnya kini tertulis Prof Dr Budiyanto MPd. Pria yang tahun ini bakal berusia 64 tahun itu menceritakan, hingga kelas IV SR, dirinya memang tak bisa membaca.


Dia hanya bisa menggambar bentuk huruf per huruf, tapi tak bisa mengejanya ketika sudah menjadi sebuah kata. Jika menulis, dia hanya bisa mengingat-ingat bentuk gambar tiap kata, lalu menuangkannya ke dalam tulisan.

Kesulitan menyerap informasi itu terjadi selama dia duduk di bangku SR. Setelahnya, dengan segenap upaya, dia akhirnya mulai bisa membaca hingga saat ini nama lengkapnya telah bersanding dengan gelar-gelar akademisi yang cukup mentereng.

’’Jadi, dulu itu keluarga saya menilai saya bodoh karena tidak bisa membaca. Tapi, mereka juga tidak tahu saya ini kenapa. Baru saat saya kuliah, saya tahu, oh ini toh yang saya alami dulu (specific learning difficulties, Red),’’ paparnya.


Latar belakang Budi yang merupakan mantan anak berkebutuhan khusus (ABK), rupanya, sejalan dengan perjalanan pendidikan dan karirnya. Dia terus belajar hingga kini menjadi guru besar ketiga di Indonesia yang khusus menekuni bidang pendidikan inklusif. Empatinya terhadap ABK yang mengalami hambatan komunikasi dan intelektual sangatlah besar.

Budi merupakan pelopor pengembangan signalong Indonesia. Signalong adalah sistem bahasa isyarat yang dapat digunakan ABK dari berbagai hambatan.


Signalong berbeda dengan sistem bahasa isyarat Indonesia (SIBI) dan bahasa isyarat Indonesia (bisindo) yang lebih banyak digunakan orang tuli. Signalong lebih banyak menggunakan satu isyarat untuk satu kata, tidak menggunakan satu isyarat untuk satu huruf. Sehingga lebih mudah dipahami ABK dari berbagai latar belakang, bahkan orang yang tidak menyandang disabilitas.

’’Jadi, anak-anak yang cerebral palsy, autism, dan orang-orang pada umumnya lebih gampang menggunakan sinalong ini,’’ jelas Budi.

Pria yang kini mengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu memaparkan, signalong sebenarnya sudah lama digunakan sebagai salah satu sistem bahasa isyarat untuk ABK di Inggris. Hanya, dia mengembangkannya menjadi signalong Indonesia sehingga isyarat yang ada disesuaikan dengan budaya lokal di Indonesia.


Misalnya, untuk menyebut kata ’’bapak’’, seseorang cukup memegang area segi tiga di bawah hidung dengan telunjuknya. Itu menandakan seolah-olah orang tersebut memegang kumis.

Sistem isyarat itu disusun Budi bersama #KieronSheehy, seorang profesor dan peneliti dari Open University, Inggris. Penelitian tersebut dilakukan sejak 2012 dan telah menghasilkan sebuah kamus pada 2013. Kamus itu terus mengalami perkembangan dan saat ini telah memiliki sekitar 600 kosa isyarat.

Dalam pengembangan dan adaptasinya di Indonesia, Budi juga dibantu tim penyusun yang terdiri atas 28 guru sekolah luar biasa (SLB). Tentu tak mudah menyusun isyarat-isyarat itu.

Budi dan Sheehy, bersama para guru SLB itu, telah melalui rangkaian diskusi dan penelitian yang panjang agar bisa menghasilkan isyarat yang mudah dipahami semua kalangan.


Signalong Indonesia mulai diperkenalkan secara lebih luas tahun ini. Budi, dengan dibantu tim dari Unesa, telah memiliki website dan YouTube channel tentang signalong Indonesia. Dengan begitu, pengenalan signalong Indonesia tidak terbatas lewat kamus.

Salah satu sekolah yang sudah menggunakan signalong Indonesia adalah #SekolahGaluhHandayani di Surabaya. Sekolah inklusif itu memanfaatkan signalong sebagai media percakapan dengan para siswa sejak 2013.

Dari 200 murid di sekolah itu, 70 persen di antaranya adalah ABK. ’’Anak TK pun sudah kami ajari signalong,’’ ucap Ketua Yayasan Sekolah Galuh Handayani Prastiyono.

Menurut Pras, sapaan akrabnya, signalong terbukti sangat membantu siswa ketika harus sekolah daring dari rumah. Orang tua yang tadinya tidak bisa bahasa isyarat jadi lebih mudah berkomunikasi dengan anaknya. Sebab, dalam setiap sesi pelajaran daring, para guru menggunakan signalong yang bisa dipelajari tidak hanya oleh orang tuli.

Namun, Pras mengakui, 600-an kosa isyarat dalam signalong Indonesia masihlah kurang. ’’Banyak kosakata yang tidak ada dalam kamus sehingga kami kemudian mengusulkan kepada tim signalong Indonesia untuk membuat kosa isyarat baru,’’ ujar Pras.


Budi pun mengakui hal tersebut. Inginnya, pengembangan signalong Indonesia tak berhenti sampai di sini saja. Dia akan terus mengembangkan kamus signalong Indonesia agar lebih banyak mengakomodasi kata-kata ke dalam sistem isyarat.

Kini luka masa silam yang menoreh bekas di rongga-rongga memori dan perasaan Budi sudah termaafkan. Bahkan menjadi cambuk yang telah membawa Budi menjadi versi dirinya yang jauh lebih baik.

Sementara itu, simbok yang pernah menyangka Budi bodoh menjadi sosok yang sangat dekat di hati Budi, bahkan setelah menjadi almarhumah. ’’Simbok itu punya kedekatan yang irasional dengan saya. Dia sering punya firasat saya mengalami kejadian buruk tanpa saya beri tahu sama sekali,’’ ungkap Budi.

Suaranya mulai parau. ’’Simbok itu sangat menyayangi anak-anaknya dan selalu berusaha melihat kami menjadi orang pintar, meski dia sendiri tidak pernah sekolah,’’ tutur kakek dua cucu itu, lantas meminta maaf kepada Jawa Pos karena tak dapat menahan tangis.


Tidak ada komentar: