klik sayangi bumi maka akan disayang langitan

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

(HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

*

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

surat (30) ar rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (٤١)

surat (5) al maa'idah ayat 32

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ (٣٢)

surat 4 An Nisa' ayat 114

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

surat 3 Āli 'Imrān ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*

klik nasehat

klik emak

*

Senin, 18 Februari 2019

Musuh Musuh Islam

klik catatan


“Umat Islam itu sejak dulu selalu terpecah belah dan saling berperang satu sama lain. Oleh sebab itu perlu diciptakan musuh bersama untuk mempersatukannya.”
Demikian kata seorang teman dalam sebuah diskusi. “Jadi jangan heran kalau ada yang membangunkan hantu PKI untuk menakut-nakuti umat Islam. Itu strategi kuno dari Tiongkok, yaitu Strategi ke-14 yang disebut ‘Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan kembali jiwanya. (Menghidupkan kembali orang mati.)’ Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu dengan memberinya tujuan baru atau terjemahkan kembali, dan bawa ide-ide lama, kebiasaan, dan tradisi ke kehidupan sehari-hari.

Sedangkan strategi yang pernah disampaikan Prabowo dalam ceramahnya, yaitu ‘Rampoklah rumah yang sedang terbakar (Loot a burning house)’ adalah Strategi ke-5. Saat sebuah negara mengalami konflik internal, ketika terjangkit penyakit dan kelaparan, ketika korupsi dan kejahatan merajalela, maka ia tidak akan bisa menghadapi ancaman dari luar. Inilah waktunya untuk menyerang. Jadi ini memang strategi perang kuno. 

Semua itu bisa dibaca di https://id.wikipedia.org/wiki/36_Strategi.” sambungnya.

“Umat Islam itu susah bersatu kalau bicara soal kekuasaan, semua pada ingin berkuasa sendiri-sendiri. Lha wong di zaman khilafah aja mereka bisa saling bunuh dan bantai sesama keluarga kok. Coba lihat di Indonesia ada berapa partai berbasis Islam. Mengapa mereka tidak jadi satu saja dalam sebuah partai Islam?” tanyanya.
“Yo ndak mesti kalau hanya ada satu partai maka umat Islam mau bersatu di situ,” jawab saya. “Dulu eranya Mbah Harto kan hanya ada satu partai Islam, yaitu PPP dengan lambang Ka’bah. Faktanya umat Islam juga gak mau kok bersatu memilih mereka.” bantah saya.
“Kan umat Islam memang ditekan waktu itu. PPP juga sebenarnya buatan Mbah Harto sekedar untuk menciptakan kesan demokratis. Mana berani umat Islam melawan Mbah Harto saat itu?” jawabnya.
“Ya itulah kelakuan umat Islam,” jawab teman lain sambil tertawa. “Pas sudah bebas menentukan pilihan mereka malah bubar bikin partai sendiri-sendiri.” Kami pun tertawa bareng dengan kecut.

Saya lama berpikir dengan diskusi kami tersebut. Benar juga bahwa pemimpin Islam itu selalu menciptakan musuh bersama agar umat Islam bersatu. Sayangnya umat Islam terus menerus menciptakan musuh bersama tapi lupa menciptakan teman atau sahabat sehingga musuhnya semakin banyak dan akhirnya tidak punya teman. Musuh sak klumbruk konco gak duwe. Apes tenanan…! 🙁

Sekarang ini hampir semua hal menjadi musuh umat Islam. Musuh ‘abadi’nya adalah umat Yahudi dan Nasrani. Penyebabnya tentulah karena sejarah konflik antara umat Islam awal dengan komunitas Yahudi dan Nasrani di Madinah. Meski itu sebenarnya hanya sejarah yang diabadikan dalam Alquran tapi justru konflik dan rasa bermusuhannya yang diawetkan oleh para pemuka Islam. Mereka selalu membakar-bakar umat Islam dengan ayat-ayat tentang konflik tersebut. Padahal apa yang tertulis dalam ayat Alquran itu adalah sejarah dan bukan anjuran untuk terus berperang dan bermusuhan. Tapi mungkin memang kurang heroik kalau kita tidak mengawetkan rasa bermusuhan tersebut.

Sampai sekarang umat Islam selalu diprovokasi bahwa hidup mereka selalu dalam keadaan genting karena umat lain, utamanya umat Kristen dan Yahudi, akan selalu memusuhi mereka. Mereka-mereka ini akan menggambarkan betapa umat Kristen dan Yahudi tidak pernah rela bertetangga dengan umat Islam dan kebencian mereka sudah nyata jadi jangan pernah sedikit pun percaya pada mereka. Saking curiganya sehingga kita menjadi paranoid akut dan menganggap bahwa kita selalu dalam situasi akan dikristenkan atau diyahudikan. 🙄

Banyak buktinya, kata mereka. Lha wong perempatan jalan di Solo saja diam-diam sudah dipasangi salib kok oleh mereka. Untungnya umat Islam Solo cerdas dan waspada sehingga upaya licik mereka itu ketahuan. Coba kalau tidak ketahuan, pasti umat Islam yang lewat di situ akan menjadi auto-kafir. Naudzubillahi min dzalik…! 😀

Setelah dengan umat Yahudi dan Nasrani umat Islam terpecah menjadi dua kelompok besar yang saling bermusuhan, yaitu kelompok Sunni dan Syiah. Meski Tuhannya sama, nabinya sama, Kitab Sucinya sama, salatnya sama, puasanya sama, berhajinya sama ke Mekkahnya, tapi sekali bermusuhan harus tetap bermusuhan. Entah kapan sesama umat Islam ini bisa ngopi-ngopi dan jagongan syar’i bersama.

Belakangan kita bermusuhan juga dengan umat beragama Hindu dan Budha. Di India, setelah merdeka, umat Islam tidak rela jadi satu negara dengan umat Hindu sehingga jadilah Pakistan. Di Pakistan mereka juga tidak kompak sehingga terpecah dan berdirilah Bangladesh. Di negara mayoritas beragama Budha umat Islam juga tidak bisa tenang sehingga selalu ada bentrokan. Di Srilanka ketegangan antara masyarakat Buddha dan Muslim terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Umat Buddha garis keras menuding Muslim di sana memaksa orang-orang memeluk agama Islam atau merusak situs arkeologi Buddha. Sejak krisis kemanusiaan di Myanmar memburuk Agustus 2017 lalu, banyak umat Buddha Sri Lanka memprotes kedatangan pengungsi Muslim Rohingya di negaranya. Pokoknya ngeri deh…! 🙁

Belum puas dengan itu maka ditambahlah musuh-musuh baru, yaitu komunisme, kapitalisme, fasisme, liberalisme, hedonisme, LGBT-isme, segala macam ancaman isme yang ada di dunia ini. Sekarang sudah ditambahi lagi dengan ilusi dan khayalan bahwa Indonesia akan dijajah China. Bukti-bukti sudah banyak, katanya. Di situs Eramuslim katanya investor China juga telah menyelundupkan para militer China ke Indonesia dengan dalih tenaga kerja proyek. Apartemen-apartemen di pesisir pantai di Jakarta itu mereka gunakan sebagai tempat persembunyian mereka untuk mengintai perairan Indonesia. Jadi kita sebagai umat Islam harus waspada terhadap orang China. 😯

Opo maneh? Oh ya, hidup kita ini sungguh sangat ternista karena kita telah dikepung oleh riba. Semua transaksi perbankan adalah riba sedangkan riba adalah musuh Islam. Tinggalkan transaksi perbankan dan mari kita bertransaksi dengan menggunakan dinar emas dan dirham. Hidup zaman khilafah…! Kibarkan bendera Tauhid. Kalau ada bendera HTI dibakar maka itu artinya sama dengan membakar ketauhidan dan akidah kita. Kalau ada yang mengecam praktek minum air kencing onta maka itu sama dengan mengecam ajaran agama kita. Ada yang tidak cocok dengan pasal-pasal RUU P-KS mari kita teriak bahwa ada upaya untuk mempromosikan LGBT dan melegalkan perzinahan. Mupakat gak, Bro…?! 😀

Pokoknya ‘entek ngamek kurang golek’, jangan sampai umat Islam kekurangan musuh. Musuh adalah energi vitalitas kita. Semakin banyak musuh semakin bersemangat dan bergelora rasanya hidup ini. Kurang asyik rasanya kalau tidak ada permusuhan antara cebong (muslim) dan kampret (muslim) dalam kehidupan sehari-hari kita. Mari kita kobarkan. 

Takbiiiiiir…! 😎

Surabaya, 17 Februari 2019

Tidak ada komentar: