klik sayangi bumi maka akan disayang langitan

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

(HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

*

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

surat (30) ar rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (٤١)

surat (5) al maa'idah ayat 32

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ (٣٢)

surat 4 An Nisa' ayat 114

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

surat 3 Āli 'Imrān ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*

klik nasehat

klik emak

*

Selasa, 19 Juni 2018

bahasa tubuh

1. Sena A. Utoyo (lahir di CimahiJawa Barat7 Juli 1953 – meninggal 7 November 1998 pada umur 45 tahun) 

adalah pemeran dan presenter Indonesia. Dia juga membuat kelompok pantomim bersama Didi Petet bernama Sena Didi Mime

Filmografi


2. Jemek Supardi (lahir di SlemanDaerah Istimewa Yogyakarta14 Maret 1953; umur 65 tahun) 

adalah seniman teater berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai penampil pantomim yang menyuarakan ketimpangan sosial masyarakat. Ia telah menghasilkan banyak karya di berbagai medium pertunjukan antara lain di panggung pertunjukan, pasar, jalan, sampai kuburan.[1][2]

Latar belakang


Jemek Supardi lahir di Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia merupakan penampil pantomim andal yang dimiliki Indonesia saat ini. Latar pendidikannya hanya lulus SMP, dan sempat mengenyam jurusan senirupa di Sekolah Menengah Senirupa Indonesia selama tiga bulan. Ia pernah bergabung di sejumlah kelompok teater seperti Teater Alam, Teater Boneka, dan Teater Dinasti. Ketika bersama Teater Dinasti, sekiitar tahun 1977, lantaran ia kesulitan dalam menghafal naskah, akhirnya ia dipercaya mengurusi bidang artistik, seperti properti, make up, dan kostum. Menyadari kelemahannya itu, ia menekuni pantomim sebagai penyaluran hasrat berekspresinya. Keahlian berpantomim ia dapatkan sendiri secara otodidak. Menciptakan seni dalam bahasa gerak berdasarkan imajinasinya. Tidak ada figur yang memberi ilmu pantomin kepadanya. Ia hanya rajin menonton pentas pantomim dari luar negeri yang digelar di Yogykarta, termasuk pantomim Prancis, Marcel Marceau.[3][4]
Sering berpantomim di tempat tak lazim, semisal di jalan, makam pahlawan, kereta api, dan Rumah Sakit Jiwa Magelang. Dia juga membuat heboh ketika pantomim tak disertakan dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta 1997. Berpakaian kaos hitam-hitam dan muka putih dia berangkat dari rumahnya dengan naik becak ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg mencegat dan menggelandangnya. Ia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit Pensiun di sepanjang Malioboro, jalan itu pun macet total.[5]

Ia juga pernah menggelar aksi diam sepanjang Yogyakarta-Jakarta saat aksi mahasiswa menuntut Soeharto mundur. Ia setuju jika seniman terlibat dalam berbagai kegiatan dengan menampilkan kemampuannya lewat performance art. Selama lebih dari tiga dasawrsa ia berkesenian, banyak karya telah dilahirkannya. Karya seninya sering dibawakan secara tunggal dan kolektif oleh beberapa kelompok teater.[6]

Karya

  • Sketsa-sketsa Kecil (1979)
  • Jakarta-Jakarta (1981)
  • Dokter Bedah (1981)
  • Perjalanan hidup dalam gerak (1982)
  • Jemek dan Laboratorium (1984)
  • Jemek dan Teklek Jeme (1984)
  • Katak Jemek dan Pematung (1984)
  • Arwah Pak Wongso (1984)
  • Perahu Nabi Nuh (1984)
  • Lingkar-lingkar Air (1986)
  • Sedia Payung Sesudah Hujan (1986)
  • Adam dan Hawa (1986)
  • Terminal-Terminal (1986)
  • Halusinasi Seorang Pelukis (1986)
  • Manusia Batu (1986)
  • Kepyoh (1987)
  • Patung selamat Datang (1988)
  • Pengalaman Pertama (1988)
  • Balada Tukang Becak (1988)
  • Halusinasi (1988)
  • Stasiun (1988)
  • Wamil (1988)
  • Soldat (1989)
  • Maisongan (1991)
  • Menanti di Stasiun (1992)
  • Sekata Katkus du Fulus (1992)
  • Se Tong Se Teng Gak (1994)
  • Termakan Imajinasi (1995)
  • Pisowanan (1997)
  • Kesaksian Udin (1997)
  • Kotak-Kotak (1997)
  • Pak Jemek Pamit Pensiun (1997)
  • Badut-badut Republik atau Badut-badut Politik (1998)
  • Bedah Bumi atau Kembali ke Bumi (1998)
  • Dewi Sri Tidak Menangis (1998)
  • Menunggu Waktu Pantomim (1998)
  • Yogya-Jakarta di Kereta (1998)
  • Kaso Katro (1999)
  • Eksodos (2000)
  • 1000 Cermin Pak Jemek (2001)
  • Topeng-topeng (2002)
  • Kaca (2007)
  • Air Mata Sang Budha (2007)
  • Mata-Mati Maesongan 2 (2008)
  • Menunggu (Kabar) Kematian (2008)
  • Pisowanan (2008)
  • Calegbrutussaurus (2009)
  • Buku Harian Si Tukang Cukur (2012)
  • Jemek Ngudarasa (2013)

Penghargaan


  • Penghargaan seni dari Sultan Hamengku Buwono IX

3. Septian Dwicahyo (lahir di Jakarta4 September 1968; umur 49 tahun) 

adalah seniman berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal sebagai pemeran untuk film layar lebar dan sinetron, juga seniman pantomim. Beberapa film layar lebar yang pernah dimainkan antara lain Lupus, Nenek Lampir, Pengantin Remaja, dan Gejolak Kawula Muda.

Kehidupan Pribadi

Septian Dwicahyo lahir di Jakarta. Sebelum terjun ke dunia industri film dan sinetron, sejak kecil sudah menekuni dunia tari dan pantomim. Ia juga sempat bekerja sebagai desainer produksi di perusahaan periklanan. Dia belajar pantomim ketika bergabung dengan Teater Adinda hingga mengadakan Lomba Pantomim tingkat Nasional (1986-1987). 

Dia pernah menjadi Juara 1 lomba pantomim (1981) dan mendapatkan Beasiswa dari tokoh pantomim dunia Marcel Marceau. Awal kariernya di layar lebar saat membintangi film Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi (1980). Setelah berbagai peran dijalani di layar lebar dan namanya mendapatkan tempat di hati penonton, ia pun melangkah ke ranah sinetron. Aku Cinta Indonesia (ACI) dan Rumah Masa Depan adalah dua sinetron debut yang mengawali di industri hiburan di pertelevisian. 

Sempat masuk nominasi pada Festival Sinetron Indonesia, 1994 dalam sinetron Ali Oncom (episode Kredit Macet) sebagai aktor utama. Berbekal kemauan dan bekerja keras, ia menjadi sutradara sekaligus pemain (sebagai Den Bagus) untuk serial komedi Spontan (1996-1997) berhasil meraih predikat Sutradara komedi tervaforit diajang Panasonic Award (1997). 

Kini bersama Kemendikbud, Ia menggagas Lomba pantomim pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional tingkat Sekolah dasar (2014), serta fokus pada kolaborasi seni dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kreatifitas anak hingga berhasil meraih Golden award pada World Creativity Festival (2016), Daejon,Korea. serta menjadi pembina hingga meraih peringkat 5 dunia dalam World Finals Odyssey Of The Mind,Iowa,USA.(2016).

Tidak ada komentar: