klik sayangi bumi maka akan disayang langitan

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

(HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

*

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

surat (30) ar rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (٤١)

surat (5) al maa'idah ayat 32

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ (٣٢)

surat 4 An Nisa' ayat 114

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

surat 3 Āli 'Imrān ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*

klik nasehat

klik emak

*

Minggu, 01 Juli 2018

agen hayati bernama black soldier fly











Lalat tentara hitam (Hermetia illucens) adalah salah satu jenis lalat yang banyak ditemukan di tempat-tempat yang terdapat sampah organik.[2] Larva ini memanfaatkan limbah tersebut sebagai sumber makanannya. Kemampuan larva dalam memakan sampah organik karena dalam ususnya terdapat bakteri selulolitik yang menghasilkan enzim selulase yang berperan dalam hidrolisis selulosa.[3]pemanfaatan sampah organik ini secara tidak langsung membantu mengurangi sampah tersebut sehingga berperan dalam penanganan limbah organik[3]

ReferensiSunting

  1. ^ ITIS Report
  2. ^ "Lalat Tentara Hitam Kurangi Sampah Organik"Pikiran Rakyat. 2018-03-09. Diakses tanggal 2018-05-24.
  3. ^ a b Supriyatna, Ateng (2016). "Screening and Isolation of Cellulolytic Bacteria from Gut of Black Soldier Flays Larvae (Hermetia illucens) Feeding with Rice Straw"Biosaintifika3doi:10.15294/biosaintifika.v8i3.6762.

Memproses Sampah dengan Belatung oleh Tim Forward

Reduksi Lebih Banyak, Untung ketika Dijual

FEATURES 30/08/2017, 17:46 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo

klik jawa pos

Sampah organik tak hanya diolah menjadi kompos. Di tangan tim Forward, sampah organik bisa direduksi lebih banyak dengan menggunakan belatung. Keuntungannya lebih banyak karena hasil jual belatung lebih tinggi.

MOCHAMAD SALSABYL ADN, Sidoarjo

BAU busuk tercium saat memasuki markas from organic waste to recycling for development (Forward) di Puspa Agro, Jemundo, Taman. Pada lahan yang ditempati para peniliti rekanan Eidgenössische Anstalt für Wasserversorgung, Abwasserreinigung und Gewässerschutz (EAWAG) alias institut sains dan teknologi akuatik Swiss itu, terdapat ratusan kilogram sampah buah dari Pasar Induk Puspa Agro.

Dengan pemandangan tak mengenakkan tersebut, Audinisa Fadhila tak keberatan. Menurut koordinator tim Forward itu, bau tersebut tidak sebanding dengan tempat pembuangan akhir (TPA) dan tempat pembuangan sementara (TPS) lainnya.

’’Di sini jauh lebih bersih daripada tempat penampungan sampah lainnya,’’ jelasnya.

Memang, jika dilihat lebih seksama, penampakan tempat penampungan sampah di situ cukup apik. Sampah ditampung dalam rak-rak plastik yang tertata rapi seperti barang di pabrik. Yang paling kentara, tidak terlihat lalat yang biasanya mengepung tempat pembuangan sampah.

Padahal, Teguh Rahayu dan Tina Kusumawardhani, anggota tim lainnya, harus menerima 500 kilogram hingga 1 ton sampah buah dari pasar induk setiap hari. ’’Nah, kuncinya ini,’’ ujar Audi, sapaan Audinisa Fadhila, sambil menunjuk tiga kandang yang berlapis kelambu.

Di dalamnya, terdapat ratusan lalat yang nyanggong pada kain tembus pandang itu. Sedikit saja digoyang, binatang tersebut beterbangan sambil mengeluarkan suara dengung yang lantang. Tapi, lalat di sana terlihat sedikit berbeda. Bentuk mereka sedikit memanjang dengan warna hitam pekat.

Itulah senjata rahasia sekaligus objek penilitian mereka. Namanya Black Soldier Fly (BSF). Audi menjelaskan, lalat tentara hitam tersebut berbeda dengan lalat lainnya. Serangga itu bukan vektor penyakit karena tak memakan sampah. ’’Nah, keberadaan mereka bisa meminimalkan lalat yang kerap ada di sampah kami,’’ ungkapnya.

Namun, bukan lalat tersebut yang membawa peruntungan, melainkan calon lalat yang masih berbentuk belatung. ’’Belatung itulah yang nanti menjadi andalan pemanfaatan sampah organik yang menguntungkan,’’ lanjutnya.

Belatung tersebut dimanfaatkan tim Forward untuk mereduksi sampah. Belatung itu bisa mereduksi sampai 80 persen berat sampah hanya dalam waktu dua minggu. Berbeda dengan pengomposan yang butuh minimal sebulan dan hanya 60 persen dari total sampah yang menjadi pupuk.

’’Jadi, kami bisa memproses lebih banyak daripada proses kompos. Sisa 20 persen yang kami makankan ke belatung juga bisa diproses untuk jadi kompos,’’ ungkap alumnus Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Nah, lalu untuk apa belatung itu diberi makan? Layaknya penggemukan sapi, belatung tersebut memang akan dijual. Biasanya, belatung memang dibuat sebagai salah satu pakan ternak. Termasuk tambak ikan.

Sirajuddin Kurniawan, peneliti yang juga alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, pernah menguji coba hal itu. Dia memberikan belatung sebagai pakan alternatif ke kolam ikan warga setempat. ’’Memang, kalau tanpa proses, kualitasnya jauh dengan pelet yang biasa. Karena itu, sekarang ini kami proses jadi pelet supaya sama,’’ jelasnya.

Dengan begitu, pengelola sampah bisa meraup untung lebih banyak. Jika kompos hasil sampah organik hanya Rp 1.000 per kilogram, belatung tersebut bisa dijual Rp 2.500–Rp 5.000 per kilogram. ’’Apalagi jika ada yang usaha tambak ikan sekaligus ternak BSF. Otomatis biaya produksi mereka bakal turun drastis. Kan 80 persen biaya produksi adalah pakan,’’ paparnya.

Apalagi, belatung itu justru lebih nggeragas saat diberi makan sampah organik dari dapur rumah tangga. Sebab, kadar air sampah organik lebih sedikit daripada sampah buah. ’’Beberapa bulan ini kami coba dengan menerima sampah warga Jambangan, Surabaya. Ternyata, hasil ternak belatungnya lebih gemuk,’’ imbuh Audi.

Dari kesuksesan tersebut, banyak yang berkunjung ke fasilitas itu untuk belajar resep rahasia mereka. Tak tanggung-tanggung, tim tersebut bakal kedatangan tamu dari India dan negara lain yang ingin belajar ternak BSF. ’’Kami pasti terbuka bagi semua pihak. Terutama warga-warga sekitar yang ingin membangun fasilitas itu,’’ ucapnya.

(*/c2/ai)

Warga Medokan Semampir Surabaya Hasilkan Pakan Ternak dari Sampah.

KIM MESEM 2018-04-20 Lingkungan KOTA SURABAYA


KIM Jatim, Surabaya - Solutif dan inovatif, itulah yang tercermin dari warga RT 04 RW 02 Kelurahan Medokan, Kecamatan Sukolilo, Surabaya. Untuk mengurangi volume sampah yang menjadi problema dan perhatian khusus Walikota Surabaya, Tri Rismaharini di Kota Pahlawan ini, seorang ketua RT di Kelurahan Medokan Semampir dibantu para kader lingkungannya berinovasi menjadikan sampah organik sebagai pakan ternak. Sampah organik seperti sayuran, buah busuk, ikan dan nasi basi yang selama ini sering terbuang sia-sia atau hanya sekedar menjadi kompos tanaman saja, kini melalui proses dekomposisi dan fermentasi ternyata juga bisa menghasilkan maggot atau larva yang berguna sebagai pakan ikan, serangga dan ternak lainnya.

Ketua RT 04 RW 02 Medokan Semampir, Erwin Ariyanto menuturkan jika awal mula dirinya memulai pemanfaatan sampah organik ini karena melihat banyaknya volume sampah sisa makanan yang ada di kampungnya. “ Kalo untuk sampah kering, seperti kertas, botol dan lainnya kami sudah punya Bank Sampah. Tapi, kalau untuk sampah sisa makanan dan sayuran ini yang kadang belum termanfaatkan secara maksimal dan justru hanya menambah volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS),” tuturnya.

Dengan berbekal kesabaran, Erwin pun memulai memberikan pemahaman pada warganya agar membuang sampah sisa makanan di komposter cair yang telah disediakan. Alasan Erwin memilih komposter cair dan bukan komposter padat/kering karena masa panen kompos di komposter cair lebih cepat di banding komposter kering atau aerob. “ Kalau di komposter cair, masa panennya hanya 10-20 hari sampah sudah terurai dan bisa digunakan untuk memupuk tanaman, tapi kalau di komposter kering ini kan harus nunggu 6-8 bulan,” tambah bapak tiga anak ini.

MENGHASILKAN MAGGOT/LARVA

Maggot atau larva yang dihasilkan

Di komposter itulah proses dekomposisi dan fermentasi terjadi. Sampah organik dari berbagai sisa makanan dan sayuran tersebut menghasilkan maggot setelah 8-12 hari. “Tentu saja tidak semua proses tersebut menghasilkan maggot/larva, karena harus diberi cairan starter terlebih dahulu,” jelasnya. Dan setelah 8-12 hari itulah saat kompsoter dibuka larva/maggot bermunculan. “Awalnya kecil-kecil, tapi setelah tiga hari berkembang menjadi besar, sebesar jari kelingking anak kecil,” tambahnya.

Maggot/larva inilah yang oleh Erwin kemudian dijadikan pakan burung miliknya dan ikan lele di kolam yang ada diujung gang kampungnya.  “Saya coba untuk pakan burung dan ikan, ternyata lahap sekali, ” ujarnya.

Melihat peluang yang ada, Erwin pun mencoba menjual maggot ini ke teman-temannya penghobi burung.  Gayung pun bersambut, pesanan pun perlahan berdatangan. Dari dua buah komposter cair berkapasitas 20 ltr yang ia miliki, dalam 12 hari dirinya mampu menghasilkan 8-10 kg maggot. Banyaknya maggot yang dihasilkan membuat Erwin kewalahan, pasalnya setelah memasuki 6 hari, maggot-maggot tersebut akan mengering menjadi kepompong alias menjalani proses metamorfosa menjadi lalat yang dikenal sebagai Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam.  

PEMERINTAH SWISS TERTARIK MEMBANTU

Kesabaran Erwin dan warganya dalam berjibaku dengan sampah yang bau dan menjijikkan ini ternyata mendapatkan perhatian institut sains dan teknologi akuatik dari Kementrian Perekonomian Swiss yang ada di Indonesia yakni EAWAG (Eidgenössische Anstalt für Wasserversorgung, Abwasserreinigung und Gewässerschutz ).

Direktur EAWAG, DR Chris Zuerburg sengaja datang ke kampungnya untuk melihat proses budidaya larva yang dilakukannya. Meskipun masih dilakukan secara manual dan sangat sederhana, akan tetapi Chris sangat mengapresiasi usaha Ketua RT 04 dan warganya dalam upaya mereduksi sampah di Kota Surabaya. “ Kami sangat senang sekali bisa melihat dan menemukan usaha orang-orang ini dalam mengurangi sampah,” terang Chris di sela-sela kunjungannya.

Meski dibawah guyuran gerimis, Chris ditemani perwakilan EAWAG yang ada di Surabaya yakni Mr. Bram dan Putra menyempatkan diri untuk berkeliling kampung dan melihat TPS yang ada di Medokan Semampir.

JUGA MENGHASILKAN PUPUK ORGANIK CAIR

Melihat semangat dan usaha warganya dalam mengolah sampah tersebut, Lurah Medokan Semampir, Supriono S.Sos.,MM berharap agar Medokan Semampir bisa menjadi destinasi kampung wisata lingkungan baru di Surabaya dan bisa dikembangkan dengan maksimal.

Harapan Supriono bukanlah tidak mungkin, pasalnya kampung RW 02 Medokan Semampir merupakan kampung yang pernah menyabet Best Of the Best Merdeka Dari Sampah pada Tahun 2014 yang lalu dan sering menjadi jujugan para wisatawan dalam maupun luar negeri. (KIM Semampir)

Tidak ada komentar: