klik sayangi bumi maka akan disayang langitan

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

(HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

*

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

surat (30) ar rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (٤١)

surat (5) al maa'idah ayat 32

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ (٣٢)

surat 4 An Nisa' ayat 114

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلٰحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ  ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

surat 3 Āli 'Imrān ayat 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*

klik nasehat

klik emak

*

Jumat, 13 Juli 2018

Honeywell for Educators at Space Academy (HESA)

Kisah Inspiratif Guru Salatiga yang Digembleng Jadi Astronot

Jeko I. R.Jeko I. R.

04 Okt 2017, 16:08 WIB

klik liputan 6




Di dunia ini tak ada yang tidak mungkin. Jika berusaha dan terus mencoba, mungkin hal-hal menakjubkan yang kita sudah lama impikan bisa terwujud semudah membalikkan telapak tangan.

Kira-kira, seperti itulah yang disampaikan Slamet Riyadi. Pria asal Salatiga ini tak menyangka, bisa menjajal peruntungan pergi ke Amerika Serikat (AS) untuk merasakan pengalaman menjadi astronot NASA. Bagaimana awal mula kisahnya?

Slamet yang merupakan guru Matematika di SMP Negeri 4 Tengaran Satu Atap, Salatiga, Jawa Tengah merasa beruntung menjadi salah satu anak bangsa yang diberangkatkan ke Space Academy, akademi antariksa yang berlokasi di Hunstville, Alabama, AS.

Apalagi dari ketujuh guru Indonesia yang pergi, Slamet menjadi satu-satunya yang berasal dari daerah. Adapun guru lainnya berdomisili di kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Bandar Lampung.

Program yang Slamet ikuti, yakni Honeywell for Educators at Space Academy (HESA), diakui merupakan salah satu pengalaman inspiratif yang tak bisa ia lupakan.

Selama satu pekan, ia bersama keenam guru Indonesia lain 'digembleng' dengan serangkaian pembekalan materi ilmu STEM (Sains, Teknologi, Engineering/Teknik, Matematika) dan pelatihan fisik yang ternyata juga diberikan oleh astronot NASA.

"Saya benar-benar enggak merasa bosan sama sekali. Semua materi yang diberikan HESA itu sangat menantang. Kami beraktivitas penuh dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam. Manfaatnya banyak sekali, apalagi ini menunjang pengalaman saya saat mengajar matematika," ujar pria lulusan FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut kepada Tekno Liputan6.com di Oakwood, Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Adapun pelatihan astronot yang dilakukan Slamet antara lain seperti simulasi moonwalker.

"Ini jenis pelatihan yang dibekali ke astronot untuk pergi ke Bulan. Kami semua dimasukkan ke dalam satu wahana khusus dengan kostum astronot lengkap, di dalam wahana itu gravitasinya langsung nol. Kami otomatis mengambang dan berjalan layaknya seperti di bulan," tutur Slamet dengan semangat.

Pelajaran Berharga

Lantas, dengan belajar menjadi astronot, adakah ilmu yang bisa diimplementasikan ketika Slamet kembali ke sekolahnya? Slamet menjawab, tentu banyak.

Menurutnya, matematika adalah pelajaran yang ironisnya seringkali dihindari para murid. Karena telah mengikuti program HESA, Slamet bisa menemukan cara yang mampu membangkitkan minat murid belajar matematika.

"Kami mendapatkan banyak ide bahwa mengajar itu jangan selalu teacher centered (selalu teori ketimbang praktik). Kita harus lebih sering melakukan praktik nyata. Lakukan pendekatan yang lebih ringan dan fun agar proses pembelajaran bisa lebih terasa menyenangkan," lanjutnya menerangkan.

Slamet juga memberikan contoh, salah satu pelatihan yang ia ikuti saat di AS adalah pelatihan soal relasi dan fungsi. Materi ini telah ia kembangkan sebagai bekal baru untuk para murid.

"Saya sudah rencanakan ingin mengadakan praktik pembuatan roket mini dan saat membangun roket, saya terapkan rumus relasi dan fungsi," ujar Slamet.

Selain itu, Slamet juga mengimplementasikan pelatihan moonwalker yang telah dilakukan ke dalam materi baru.

"Saya ingin mengadakan pelatihan kecil pada murid tentang parasut, dengan mengaplikasikan materi gaya gravitasi, berat, dan hampa udara sehingga lebih mudah dipahami karena para murid bisa menjajalnya langsung dalam eksperimen sederhana," imbuhnya.

Ingin Orang Indonesia Bisa Jadi Astronot

Meski tidak jadi astronot selama permanen, Slamet berharap ilmu yang ia dapat bersama rekan lainnya bisa bermanfaat bagi generasi bangsa, khususnya para murid yang berpotensi dalam ilmu STEM.

"Saya ingin membawa motivasi ke anak-anak, kalau bisa yang tertarik di ilmu STEM. Banyak kok, orang-orang berhasil yang bekerja di bidangnya karena mereka andal belajar STEM. Ada yang jadi engineer, ahli kimia, dan bahkan astronot," tukas Slamet.

Menurut Slamet, sangatlah mungkin bagi orang Indonesia untuk berpeluang bisa menjadi astronot. Apalagi, University of Alabama in Hunstville AS (UAH) juga telah membuka program beasiswa khusus bagi orang Indonesia yang ingin menekuni ilmu aeronautika. Dari situ, mereka bisa lulus dan bepeluang bekerja di NASA.

"Saya percaya orang Indonesia itu pintar-pintar dan potensial. Kita bisa memotivasi bahwa orang Indonesia itu bisa. Membawa misi sains itu tidak susah kok," pungkasnya.

(Jek/Isk)

7 Guru Indonesia Belajar Jadi Astronot di AS

Jeko I. R.Jeko I. R.

04 Okt 2017, 15:10 WIB

klik liputan 6


Astronot adalah salah satu pekerjaan impian. Bagaimana tidak, astronot ditugaskan untuk terbang ke luar angkasa. Bahkan, mereka bisa mengabdikan hidupnya untuk bekerja di antariksa.

Sayang, pekerjaan astronot selama ini cuma tersedia bagi negara-negara maju, salah satunya Amerika Serikat (AS) dengan badan antariksanya, NASA. Namun demikian, Indonesia bukan berarti tertinggal jauh dalam hal ini.

Buktinya pada 1986, Indonesia sudah memiliki astronot pertama bernama Pratiwi Sudarmono. Sayang, misi Pratiwi menembus batas gravitasi bumi urung dilakukan karena pesawat yang saat itu hampir terbang tiba-tiba meledak sebelum diluncurkan ke luar angkasa.

Pada Juni 2015, Indonesia juga mengirimkan astronot baru. Astronot bernama Rizman Adhi Nugraha tersebut memenangkan kompetisi AXE Apollo Space Academy yang dihelat Unilever. Rizman saat itu menjadi satu-satunya astronot Indonesia yang terbang ke antariksa bersama dengan 22 orang dari negara lain.

Prestasi yang dicetak para astronot di atas tentu menjadi inspirasi bagi Honeywell, perusahaan penyedia barang komersial dan sistem aeronautika.

Karena itu, perusahaan asal Negeri Paman Sam ini mengadakan program khusus bagi insan berprestasi di Tanah Air untuk bisa menjajal pengalaman menjadi astronot di luar angkasa.

Program berupa pelatihan tersebut diinisiasi langsung dengan nama Honeywell Educators at Space Academy (HESA) dan menggandeng kalangan pendidik dari Indonesia.

Honeywell juga bekerja sama dengan US Space and rocket Center (USSRC) untuk mengembangkan program beasiswa khusus untuk guru-guru tersebut.

Pelatihan ini memang tidak bertujuan untuk mencetak astronot dari Indonesia. Namun, sebagaimana disampaikan Presiden Honeywell Indonesia Alex J Pollack, pelatihan dirancang untuk membantu guru-guru di Tanah Air untuk bisa menginspirasi murid agar bisa menjadi generasi yang ahli di masa depan, baik itu dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan juga matematika.

Pelatihan Intensif

Alex mengungkapkan, Honeywell membuka pendaftaran HESA bagi semua guru yang ada di Indonesia. Pada tahap akhir, mereka cuma menerima tujuh guru dari berbagai sekolah.

Ketujuh guru tersebut juga telah mengikuti serangkaian pelatihan intensif HESA selama kurang lebih sepekan di Space Academy, akademi antariksa yang berlokasi di Hunstville, Alabama, AS.

"Kami sangat bangga dengan para guru dari Indonesia yang telah mengikuti program ini. Dengan begitu, kami berharap pendidikan STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) bisa menciptakan pemikir kritis, meningkatkan literasi sains, dan memungkinkan generasi inovator berikutnya," ujar pria yang akrab disapa Alex ini kepada Tekno Liputan6.com di Oakwood, Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Alex berharap, para guru yang sudah lulus dari program HESA bisa menghasilkan inovasi berupa produk dan proses yang kelak menopang perekonomian di Indonesia. Inovasi tentu berbasis pada pengetahuan di area ilmu STEM.

"Kami bekerja sama dengan guru sekolah menengah dari Indonesia, untuk mempelajari teknik baru agar menumbuhkan rasa ingin tahu dalam hal matematika dan sains di kalangan siswa. Kami juga ingin membantu mereka bercita-cita menjadi generasi yang andal pada bidang teknik, programmer, matematika, dan bahkan menjadi astronot berikutnya," Alex menerangkan.

Dari Jakarta hingga Salatiga

Ketujuh guru sekolah yang berhasil mengikuti program HESA tak cuma berdomisili dari Jakarta. Ada juga yang berasal dari Bogor, Bandar Lampung, Surabaya, hingga Salatiga.

Selama satu pekan, ketujuh guru tersebut mengikuti rangkaian pelatihan yang berfokus pada sains dan eksplorasi luar angkasa. Dengan kata lain, mereka menjajal diri sebagai astronot dengan memakai perangkat seperti simulasi jet dan misi-misi mini antariksa. Bahkan, para guru ini 'digembleng' dengan latihan kemahiran di darat, air, dan udara.

Tak cuma itu, para guru juga belajar teknik mengajar STEM yang inovatif agar mereka bisa membangkitkan minat belajar murid dalam pelajaran fisika, kimia, matematika, dan biologi. Mereka juga dibekali pembelajaran intensif selama 45 jam di kelas.

Pada 2017, ada 205 guru dari seluruh dunia yang mengambil bagian dalam program HESA. Sejak 2013, jika ditotal sudah ada 30 guru Indonesia yang telah mengikuti program ini.

Untuk tahun ini, berikut nama tujuh guru yang beruntung lulus dari program HESA. Di antaranya Ahmad Zimamul Umam (Jakarta, Sekolah High Scope), Andriana Susmayanti (Bandar Lampung, Sekolah Pelita Bangsa), Andry Permana (Surabaya, Sekolah Cita Hati West), Grice Purba (Bogor, SMP Taruna Bangsa), Marjon Roche (Surabaya, Xin Zhong School), Shilp Karve (Jakarta, Sekolah Bunda Mulia), dan Slamet Riyadi (Salatiga, SMP Negeri 4 Tengaran Satu Atap).

(Jek/Isk)

Tidak ada komentar: